Walaupun aku cacat, aku tidak pernah menyerah
terhadap hidupku. Aku tidak dendam terhadap orang yang telah membuatku
cacat, walau ia menghilang setelah kejadian itu. Hingga seorang pria
yang begitu mencintaiku datang, ia menerima keadaanku yang cacat.
Namanya Martin, ia pria tampan yang begitu sederhana dalam hidupku.
Walaupun aku cacat, ia berjuang untuk hidupku. Menjadi pria yang menjaga
dan melindungiku. Kadang aku sampai bertanya? Apa yang membuatnya
begitu mencintaiku, rela menghabiskan waktu dan uangnya hanya untuk
membuatku yakin.
Kalau aku akan sembuh dan normal pada suatu saat nanti.
Suatu hari ia memberitahuku, ia memikili seorang
dokter yang dapat menyembuhkanku, ia memintaku ikut dengannya ke
Amerika. Aku awalnya berpikir ini mustahil, tapi berkat kuasa Tuhan dan
Doa ibuku, akhirnya aku benar-benar sembuh walaupun tidak bisa berlari,
setidaknya aku masih bisa berjalan tanpa kursi roda yang sudah bersamaku
beberapa tahun belakangan ini. Aku pikir aku akan menjadi gadis paling
bahagia, setelah Martin melamarku tepat di hari Valentine. Aku
menerimanya, kami menikah dan hidup bahagia tapi tidak untuk Martin, ia
terusir dari keluarga dan materi yang biasa ia dapatkan sebagai anak
orang kaya.
Martin pria yang sangat bekerja keras, walau tanpa
uang dari ayahnya, ia mampu berkerja apapun sebagai suami. tapi 6 bulan
setelah pernikahan kami saat aku hamil 3 bulan. Ia tiba-tiba pingsan
dihadapanku. Ia Nampak tidak sehat sehabis pulang bekerja. Karena cemas
aku membawanya ke rumah sakit. Dan betapa hancurnya hatiku, saat dokter
berkata kalau suamiku terjangkit virus HIV. Aku menangis, menunggu saat
yang tepat untuk bertanya kepada suamiku, mengapa penyakit itu bisa ada
dalam hidupnya. Tapi hal itu tidak pernah aku tanyakan, karena lebih
baik aku berpikir untuk fokus menyembuhkan dirinya dari penyakit
paru-paru basah miliknya, karena ia bekerja sebagai pelatih renang dan
itu lah penyebab paru-parunya penuh air.
Martin, tanpa aku bilang tentang penyakitnya, ia
sudah tau apa yang ada di dalam tubuhnya. Aku tau ia cemas, bayi yang
kami kandung. Mungkin ataupun aku, bisa terjangkit virus yang sama
dengannya. Tapi sebagai istri, aku berusaha kuat, walaupun aku cemas
terhadap hasil akhir tes darah yang akan diberikan dokter tentang
kondisi tubuhku. Beberapa hari kemudian, hasil tes mengatakan aku
ataupun bayi di perutku tidak terjankit dan aku bersyukur melewati
cobaan ini.
Tanpa alasan yang aku mengerti, tiba-tiba kondisi
Martin begitu genting dan darurat. Dokter mengatakan, terjadi kompilasi
penyakit kuning dan rusaknya paru-paru. Aku menangis, memikirkan keadaan
suamiku. Ia menatapku, membesarkan hatiku. Tapi aku bisa melihat ada
sesuatu di hatinya yang hendak ia katakan padaku. Dokter mengatakan
padaku, kalau kondisi suamiku mungkin sulit disembuhkan dan mereka
menyarankan aku mencari pengobatan di Singapura. Aku pun menawarkan
suamiku. Tapi ia menolak, ia meminta di rawat di sini. Aku hanya
terdiam, aku tau, ia tidak ingin dibantah dan aku hanya bisa berdoa
kepadanya agar Tuhan memberikan mujizat.
Sampai suatu hari, aku mulai mendapatkan kejujuran
dari suamiku, tentang hidupnya. Sebuah misteri yang tak pernah aku tau.
Ia mengatakan kalimat maaf setiap hari hingga 7 hari dengan berbagai hal
yang sulit kupahami.
Hari pertama, ia bicara padaku
“ Angel, aku ingin mengatakan sebuah kejujuran
dalam hidupku. Hal pertama yang ingin kukatakan padamu, aku tau aku
terjankit virus HIV Sejak 1 bulan setelah pernikahan kita, aku minta
maaf padamu, mungkin ini dosaku, di masa mudaku, hidup terlalu bebas dan
kini menerima akibatnya ”
Aku hanya tersenyum dan berkata.
“ Tidak apa Martin, karena semua sudah menjadi
jalannya. Aku ataupun bayi yang sedang kita kandung sehat negative dari
virus HIV, janganlah kamu merasa bersalah. ”
Hari kedua, ia kembali bicara padaku.
“ Angel, aku ingin mengatakan kejujuran kedua dalam
hidupku. Aku adalah orang yang membuatmu cacat dan pelaku dari tabrak
lari yang membuatmu lumpuh. Maafkan aku..”
Aku shock, aku sadar memang terlintas Martin adalah pelaku yang membuatku cacat, tapi aku pun bisa menerima keadaan itu.
“ Aku tau sejak awal kamu adalah orang yang
membuatku cacat, tapi aku bisa mengerti. Aku sadar kamu begitu menyesali
kejadian itu, kamu hadir dalam hidupku, begitu bersemangat membuatku
sembuh. Itu sudah membuktikan kalau kamu merasa menyesal dan bertanggung
jawab”
“ Aku terpaksa melakukan itu, lari dari tanggung
jawab. Karena orang tuaku tidak mau di penjara dan memintaku lari keluar
negeri, setelah aku bisa kembali,aku pun mencarimu, melihatmu dengan
keadaan lumpuh, aku sungguh berdosa. Aku memohon maaf atas
ketidakjujuran selama ini.”
“ Lupakan saja Martin, aku sudah memaafkanmu sejak
kamu berani muncul padaku. Aku bahagia dengan semua ini, janganlah
merasa bersalah..”
Martin hanya tertunduk walaupun ia masih berasa bersalah. Hari ketiga ia pun bertanya padaku.
“ Angel andai aku sembuh, maukah hidup denganku sebagai pria HIV, apakah kau tidak takut padaku?”
Aku menjawab dengan hatiku yang tulus.
“ Martin, ketika aku disebut gadis cacat, kamulah
orang yang selalu melindungiku, mengendongku saat aku tidak bisa menaiki
tangga, menikahi gadis cacat sepertiku, bahkan menghabiskan uang yang
banyak untuk kesembuhan hidupku, berpisah dengan kelurgamu. Kamu
menerima aku sebagai gadis cacat, itu adalah kebesaran hidup yang paling
indah buatku, sekarang kalaupun sakit, biarkanlah aku menjaga dan
merawatmu, dengan cinta yang sama saat kau berikan padaku yang cacat”
Martin menangis mendengarkan itu, aku pun menangis,
ia bahkan sampai diusir dari keluarganya karena menikah denganku.
Ayahnya orang kaya, tidak akan sudi memanggilku menantu.Karena aku cacat
saat dulu.
Hari keempat ia kembali bicara padaku, wajahnya semakin pucat. Aku tau, kondisinya memburuk.
“ Angel bersediakah kau pergi menemui keluargaku,
menyampaikan permohonan maafku, kepada ayah, ibu dan
adikku,memberitahukan kepada mereka, kalau kau sedang mengandung cucu
mereka.?”
Aku tau ini jawaban yang sulit, tapi aku pun
menyanggupi, aku tau mereka akan menolakku atau bahkan mengusirku tapi
demi Martin, aku berjuang untuk menyampaikan pesan suamiku. Aku tiba
dirumah mereka, menekan bel. Ibunya menyambutku dengan kalimat “ Gadis
cacat tidak tau malu, “ aku tetap menaruh senyumku. Ayahnya muncul tapi
hanya memperhatikanku sambil berkata” Mau apalagi? Sudah cukup mengambil
putraku? Apalagi yang kurang?”
Aku dengan tenang berkata, “ Ayah dan ibu, saat ini
Martin terbaring sakit, ia memintaku untuk datang pada kalian. Walaupun
aku tau, sulit untuk kalian menerimaku, tapi setidaknya biarkanlah aku
memohon kepada kalian untuk melihat Martin, ia ingin berjumpa dengan
kalian. Kalaupun kalian tidak sudi untuk itu, aku ingin kalian tau,
Martin memohon Maaf kepada kalian, andai kata ia tidak menjadi anak yang
berbakti. Aku sedang hamil dan beberapa bulan lagi akan melahirkan.
Setidaknya izinkan cucumu ini kelak menemuimu dan memanggilku kakek dan
nenek.”
Aku pergi dengan berlinang air mata, ayah dan ibu
Martin tidak menjawab apapun. Aku sedih dan menghampiri Martin,
mengatakan semua yang sudah kulakukan. Ia membelai kepalaku, membesarkan
hatiku dan berkata kalau kelak ayah dan ibunya akan menerima aku dan
cucunya.
Hari ke lima, Martin kembali bicara padaku.
“ Angel, bolehkah kau membuatkanku makanan yang ingin sekali kumakan?”
“ Makanan apa Martin.”
“ Sejak menikah denganmu, aku paling suka masakan sayur lodeh buatanmu. Bisakah kau membuatkanku itu?”
“ Aku akan buatkan untukmu.”
Aku pulang ke rumahku, dengan wajah penuh
kesedihan. Aku sadar, ibuku pernah berkata, bila seseorang meminta
makanan yang hendak ia makan, artinya cepat atau lambat, makanan itu
akan menjadi makanan terakhir yang ia makan. Sejak kecil ia terbiasa
makanan mewah, hidup bersamaku dengan makanan kampung membuatnya lebih
bahagia. Dengan penuh kesedihan aku membuatku makanan itu, membawanya
kepada Martin. Ia menyantapnya dengan lahap, padahal ia tidak pernah mau
makan beberapa hari terakhir karena merasa tidak nafsu makan.
Hari ke enam menjelang hari ketujuh.
Martin membelai perutku yang mulai membesar, dan bertanya.
“ Apakah kamu tau, apa jenis kelamin bayi kita?”
“ Kata dokter, ia akan menjadi anak perempuan.”
“ Aku senang, aku boleh memohon padamu Angel?”
“ Katakan Martin..’
“ Berikan nama anak kita Angel, seperti namamu, karena namamu begitu indah terdengar. Bersediakah kau lakukan itu untukku.”
Aku menahan tangisku, aku pun menyanggupi
permohonan Martin. Ia mulai merasa tak kuat menahan rasa
sakitnya. Terkadang aku sedih melihatnya saat kesakitan, tapi aku tak
bisa melakukan apapun selain berdoa agar dirinya lekas lepas dari
penderitaan begitu berat baginya.keesokan harinya, hari paling berduka
dalam hidupku. Hari yang tak akan pernah terlupa dalam hidupku. Martin
tiba-tiba meminta dokter memanggilku dan bicara padaku.
“ Angel, kau harus tau, hidupku mungkin singkat di
dunia ini. Tapi di dalam hidupku hanya tersimpan dua hal yang akan
pernah kulupakan. Hal pertama adalah saat aku pertama kali jatuh cinta
padamu, dan kedua, saat aku bisa melihatmu berjalan. Andai aku kelak tak
ada lagi, berjanjilah padaku, merawat anak kita hingga menjadi anak
yang berbakti, berikah kasih sayang yang tak sempat kuberikan padanya.
Dan katakan padanya, aku sangat mencintainya..”
“ Kenapa kamu bicara seperti itu Martin, kamu
jangan tinggalkan aku.. aku tidak bisa hidup tanpamu?” kekuatan hatiku
hilang saat itu untuk tegar.
“ Kamu adalah gadis kuat, aku percaya kamu akan bertahan dan berjanji hidup untukku..”
“ Aku takut..”
“ Berjanjilah, padaku..”
Dengan berat hati aku berjanji padanya. Saat itulah
aku melihatnya pergi terakhir kalinya dalam hidupku. 7 Hal yang ia
katakan sebelum pergi menyadarkan aku betapa ia sangat berarti dalam
hidupku. Betapa dia adalah orang yang telah membuatku hidup sebagai
gadis kuat yang mampu bertahan dari cobaan berat dalam hidupku.Martin
pun meninggal dengan membawa kenangan terindah dalam hidupku.
Kutaburkan abu hidupnya yang terakhir di laut,
kujanjikan masa depan anak kami untuk mengenangnya.Ia mungkin pergi
dalam hidupku, tapi ia mengajarkan kepadaku arti cinta sesungguhnya.
Arti cinta dan pengorbanan bagi dirinya. Cinta yang membuatnya
kehilangan segalanya. Harta dan keluarganya, tapi tidak kebesaran
hatinya untukku.
Semoga saja kisahku ini menjadi kekuatan kalian
untuk memberikan arti cinta tanpa berharap balasan yang tidak bisa
dihargai dengan uang ataupun berlian sekalipun.
Tamat.
Kisah ini terdapat dalam novel Agnes Davonar berjudul
MY LAST LOVE.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar